Rabu, 23 April 2014

Perkawinan Melayu - Tionghoa di Tepi Kapuas

Arsitektur gedung perkumpulan marga Huang sekilas mirip bangunan Melayu tempo dulu.
Tanda asimilasi budaya hanya terlihat di daun pintu yang beraksara Mandarin dan patung naga di bumbungan atap. Bangunan itu kukuh berdiri di antara hiruk pikuk aktivitas perda gangan Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Menempati kawasan kota tua, gedung berdinding putih dengan lis cokelat tersebut milik Yayasan Kuning Agung, sebuah perkump u l a n m a r g a H u a n g d i Ko t a Pontianak. Mereka bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, terutama mengurusi permakaman warga dari marga Huang.

Usia bangunan di Jl Sultan Muhammad tersebut sekitar 89 tahun, tertua di antara gedung lain milik perkumpulan marga Tionghoa di Pontianak. Gedung ini merupakan segelintir bangunan kuno di Pontianak yang masih terawat dan belum berubah fungsi.

“Usia yayasan (perkumpulan marga Tionghoa) mungkin banyak yang lebih tua.
Tapi, gedungnya, ini yang paling tua di Pontianak,“ jelas Sekretaris Yayasan Kuning Agung Hendra Ngantung kepada Media Indonesia, belum lama ini.

Gedung Yayasan Kuning Agung berarsitektur khas. Jika dilihat sepintas dari luar, gedung ini mirip bangunan Melayu Pontianak tempo dulu. Namun, adanya lampion dan aksara Mandarin di kedua daun pintu mengidentikkan bangunan tersebut dengan budaya Tionghoa.

“Tulisan Mandarin di atas (pintu) artinya `gedung pertemuan marga Huang', sedangkan tulisan di (daun) pintu ialah nama dewa penjaga pintu,“ jelas Hendra alias Huang Ziran. Corak Melayu pada bangunan itu antara lain terlihat pada pagar teras depan. Pagar tersebut terdiri pahatan kayu yang saling terhubung memanjang.

Ornamen Melayu juga menghiasi bagian tebing atap atau lisplang. Begitu pula bentuk atap, kecuali dua replika naga yang bertengger di bumbungan. “Atapnya tidak berbentuk plana melengkung seperti pada bangunan tradisional Tionghoa, tetapi lebih menyerupai atap pada bangunan Melayu,“ jelas Bontor J Gultom, arsitek dari Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak.

Atmosfer oriental baru terasa saat memasuki gedung. Interior ruangan dipenuhi ornamen dan desain khas Tiongkok. Gambar dewa dan leluhur marga Huang serta rangkaian puisi Mandarin menghiasi dinding ruang utama. Di ujung ruangan tersebut terdapat altar sebagai tempat pemujaan. Altar biasa digunakan saat ritual untuk memperingati kelahiran leluhur. “Persembahyangan juga dilakukan saat perayaan Imlek, Cap Go Meh, atau Ceng Beng (ziarah kubur),“ ujar Sebastian alias Ng Yong Liak, anggota Pembina Yayasan Kuning Agung.

Di altar terdapat ratusan papan kecil persegi panjang, yang memuat nama para leluhur marga Huang Pontianak. Papan kecil itu disebut sebagai papan arwah dan diletakkan berjejer dalam enam baris.
Tepat di atas deretan papan arwah terpampang dua lukisan foto Siaw San Kung dan istri. Sang Kung merupakan leluhur dan pewaris utama marga Huang.

Altar dan pilar utama ruangan berkelir cokelat tua. Begitu pula daun pintu dan beberapa bagian utama ruangan berwarna senada. Aksara Mandarin yang menghiasi bagian ruangan tersebut terlihat mencolok karena ditulis dengan tinta kuning emas. Adaptasi Pengaruh corak Melayu pada arsitektur bangunan merupakan adaptasi terhadap lingkungan dan budaya setempat. Kawasan Seng Hie dan wilayah di sekitarnya pada saat gedung ini dibangun merupakan perkampungan Melayu.
Beberapa warga di perkampungan tempo dulu itu bahkan masih keturunan bangsawan Kesultanan Pontianak. “Di sepanjang tepian Kapuas tersebut dahulu merupakan permukiman warga Melayu.

Ada beberapa lokasi yang didiami warga Tionghoa, tapi mayoritas Melayu,“ jelas pemerhati masalah perkotaan Emilya Kalsum. Keberadaan Gedung Yayasan Kuning Agung menggambarkan keterbukaan masyarakat Pontianak terhadap komunitas dan budaya lain. Mereka tidak pernah mengusik keberadaan yayasan dan komunitas Huang, juga komunitas lain. Pihak kerajaan saat itu bahkan mempersilakan para perantau membangun perkampungan sendiri.

“Makanya, di Pontianak itu ada Kampung Kamboja, Kampung Saigon, Kampung Kuantan, dan sebagainya. Nama perkampungan itu berasal dari nama daerah pemukim pertama di kawasan tersebut,“ lanjut Emilya.

Selain langgam Melayu, arsitektur Gedung Kuning Agung dipengaruhi corak Eropa. Itu terlihat pada kaca ventilasi. Kaca yang digunakan dahulu berwarna-warni, tetapi sebagian telah diganti ka rena pecah. Jalan Sultan Muhammad dan sekitarnya memang dahulu bagai semangkuk sup budaya dari berbagai etnik dan ras yang hidup di Pontianak yang dikenal sebagai pusat perdagangan sejak zaman pendudukan Belanda. Selain toko dan pergudangan, di kawasan itu terdapat pelabuhan tradisional Seng Hie.

Pelabuhan tersebut dahulunya dermaga milik saudagar Tionghoa, Theng Seng Hie. Kawasan itu pun kemudian dikenal dengan nama kawasan Seng Hie. Pelabuhan Seng Hie berada di seberang Gedung Yayasan Kuning Agung. Kedua tempat bersejarah itu sama-sama menghadap Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.(M-4) Media Indonesia, 20/04/2014, hal : 14