Senin, 21 April 2014

Banjir Putuskan Trans - Kalimantan

MENJELANG memasuki musim kemarau, beberapa daerah masih belum terbebas dari banjir. Curah hujan yang tinggi di Provinsi Kalimantan Tengah menyebabkan Sungai Kahayan meluap.
Akses jalan trans - Kalimantan yang menghubungkan enam kabupaten di wilayah itu menjadi terhambat karena terendam banjir.

Sementara itu, jalan trans Kalimantan tepatnya di Desa Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, terputus karena terendam air setinggi 30 cm-60 cm, dengan daerah yang tergenang mencapai panjang hampir 500 meter. Kondisi tersebut mengakibatkan antrean panjang puluhan kendaraan roda empat, yang hendak melintasi jalan yang kebanjiran.

“Sudah 1 jam saya berada di antrean, belum juga bergerak,“ keluh Toni, pengendara mobil travel yang terjebak banjir di Desa Bukit Rawi, kemarin.

Baca juga : Trans Kalimantan Poros Selatan Terputus.

Banjir terjadi sejak Minggu (13/4) lalu. Akses jalan yang terendam banjir tersebut cukup vital karena menghubungkan Palangkaraya dengan enam kabupaten di wilayah Barito, yakni Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Murung Raya, Pulang Pisau, dan Gunung Mas.

Kondisi itu diperparah dengan pengerjaan timbunan badan jalan dan pembuatan jembatan beton yang be lum selesai. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan Tengah Leonard Samuel Ampung menjelaskan, untuk mengatasi banjir, pihaknya akan meninggikan badan jalan dengan penimbunan setinggi 1,5 meter dan pembuatan gorong-gorong sebanyak tiga buah di daerah rawan banjir.
Padi terendam Banjir juga melanda Bengkulu, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kali ini banjir merendam puluhan hektare padi dan bawang merah.

Di Bengkulu, sebanyak 20 hektare area persawahan di Desa Srikuncoro, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, panen lebih awal meskipun padi belum menguning.
Para petani khawatir padi mereka puso karena areal persawahan sudah tergenang air sedalam 1 meter. Untuk itu, panen awal merupakan solusinya.

“Kami harus memanen padi lebih awal meskipun belum menguning. Hasilnya lumayan banyak daripada harus menunggu padi menguning dengan gabah masih mentah,“ kata Joko, petani Desa Srikuncoro, Bengkulu, kemarin.

Di Desa Kaligondang dan Cilapar, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah, sedikitnya 35 hektare sawah yang ditanami padi siap panen terancam puso akibat terendam banjir.

Daerah sentral bawang merah, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Jawa Tengah, tak luput terendam banjir. Hujan yang terus mengguyur membuat Sungai Pamali meluap dan menggenangi puluhan hektare tanaman bawang merah. Petani merugi sampai ratusan juta rupiah karena bawang merah mereka membusuk.

“Rata-rata umur tanaman bawang yang terendam air sudah di atas dua bulan. Beberapa pekan lagi sudah bisa dipanen,“ ujar Mahfudin, warga Desa Kaliwlingi.

Meluapnya Sungai Pemali juga menyebabkan permukiman warga di Desa Pebatan dan Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari, terendam air.

Pada bagian lain, dampak jebolnya tanggul Sungai Sibiting di Desa Kwadungan, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menyebabkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat menderita kerugian sebesar Rp82,9 juta.
Pipa air di dua titik jebol.

“Dampaknya pelayanan untuk 4.650 pelanggan yang masuk unit pelayanan Parakan dan Kota Temanggung terganggu,“ kata Direktur PDAM Tirto Agung Temanggung, Suparto Edi Sucahyo. (MY/LD/JI/TS/N-3/MEDIA INDONESIA, 15/04/2014, HALAMAN : 10)