Sabtu, 22 Maret 2014

Trans Kalimantan Poros Selatan Terputus

Terputusnya jalan negara menyebabkan jarak yang ditempuh cukup jauh sekitar 1 jam melintasi perkebunan sawit. Jalan trans Kalimantan poros selatan te patnya di Km 76 Pangkalan Lada-Asam Baru, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabu paten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, terputus sepanjang 20 meter, ke marin pagi.Peristiwa yang terjadi pada pukul 06.00 WIB itu disebabkan gorong-gorong yang tepat berada di tengah jalan hancur digerus derasnya luapan air hujan.

Kondisi itu mengakibatkan jalan negara tidak bisa dilalui. Para pemakai jalan harus berputar melalui jalan alternatif milik perkebunan kelapa dan jalan yang dibuat Kabupaten Kotawaringin Barat.
Eka Satri, pengguna jalan yang sedang melintas di daerah tersebut, menjelaskan terputusnya jalan negara menyebabkan jarak yang ditempuh cukup jauh sekitar 1 jam melintasi perkebunan sawit. “Semoga tidak turun hujan sehingga jalan di perkebunan tidak licin dan becek,” harapnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan Tengah Leonard S Ampung membenarkan terputusnya jalan negara tersebut. “Goronggorong jebol karena diterjang hujan deras kemarin malam. Memang gorong-gorong dari besi itu harus segera diganti karena sudah tua. Sebagai gantinya gorong-gorong itu dibuat secara permanen dengan memakai besi beton,” terangnya.

Di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, akibat guyuran hujan, tanjakan Siregol di jalan nasional jurusan Tegal-Brebes-Purwokerto ambles sekitar 20 cm pada sisi kanan jalan.

Ruas jalan yang ambles masuk wilayah Desa Kuramendala, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Amblesnya ruas jalan di tanjakan Siregol itu membuat banyak pengendara sepeda motor baik dari arah utara (Tegal-Brebes) maupun dari arah selatan (Purwokerto) melalui Bumiayu terjatuh. Pasalnya, lokasi badan jalan yang ambles berada di tanjakan yang tinggi sehingga tidak terlihat.
“Saya tidak melihat adanya jalan yang ambles karena saya langsung tancap gas saat menanjak. Saya tidak bisa menghindar sehingga terjatuh,” ujar Anto, pengendara sepeda motor.

Hingga kemarin, petugas Bina Marga belum memasang rambu tanda adanya jalan ambles.
Pada bagian lain, sedikitnya lima desa di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berpotensi mengalami longsor.
Rata-rata wilayah tersebut berada di daerah perbukitan yang rentan mengalami pergerakan tanah.
Camat Campaka, Akos Koswara, menjelaskan lima desa yang berpotensi rawan longsor yakni Desa Girimukti, Margaluyu, Mekarjaya, Wangun, dan Campaka.

“Saat ini yang paling diwaspadai ialah Desa Margaluyu karena ada pergerakan tanah.
Sebagian warga sudah direlokasi ke tempat yang aman dengan bantuan dana pemerintah,” ujar Akos. (SS/JI/BK/N-3/ MEDIA INDONESIA, 19/03/2014)