Senin, 12 Mei 2014

Memahami Hutan Kalimantan dalam Balutan Sendratari

Ada tarian yang mengisahkan mengenai budaya penebangan pohon yang dilakukan dengan ritual-ritual khusus agar tidak merusak alam. KOREOGRAFER tari tradisional khas Indonesia Dedy Lutan kembali hadir dengan karya terbarunya.

Lewat pagelaran tari bertajuk `Hutan Pasir Sunyi' yang akan diadakan di Galeri Indonesia Kaya tanggal 10 Mei 2014 mendatang, Dedy Lutan Dance Company (DLDC) mengisahkan kehidupan dan tradisi suku Dayak dari Kalimantan dan bagaimana alam berperan penting dalam adat istiadat mereka.

Hutan Pasir Sunyi bertutur mengenai sebuah proses, yakni bagaimana adat-istiadat serta budaya Indonesia, khususnya Suku Dayak, lahir dan berkembang dari hutan dan alam.

Tarian itu juga melambangkan fungsi penting hutan Kalimantan yang luas sebagai paru-paru dunia.
Menurut pimpinan produksi DLDC Iga Mawarni, Hutan Pasir Sunyi dibagi menjadi beberapa fase cerita. Salah satu fase menceritakan kejayaan Kalimantan di masa lampau ketika kondisi hutan masih perawan dan masyarakatnya hidup selaras dengan alam.

“Ada tarian yang mengisahkan mengenai budaya penebangan pohon yang dilakukan dengan ritual-ritual khusus agar tidak merusak alam. Itu adalah masa ketika hutan Kalimantan berperan sebagai tumpuan paru-paru dunia dan penduduknya hidup bahagia bersama alam,“ jelas Iga saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, West Mall lt. 8, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Fase lain yang akan ditampilkan ialah kondisi hutan Kalimantan dewasa ini. Pada fase ini, menurut Iga, para penari DLDC akan menggambarkan kondisi hutan Kalimantan yang terpuruk karena dirambah dan dijarah pihak-pihak dari luar.

“Ini fase mengenai perambahan hutan di Kalimantan oleh pihak luar yang akhirnya merusak hutan. Situasi ini berpengaruh terhadap cuaca dan alam yang kemudian berimbas kepada masyarakat dunia,“ jelas penyanyi jazz senior itu.

Diungkapkan Iga, selain di GIK, pagelaran tari tersebut akan dipentaskan di Kebun Raya Bogor pada 13 Mei 2014.
Para penari DLDC akan menari diiringi langsung oleh musik dari sejumlah alat musik khas masyarakat adat Dayak.
Melalui karyanya, Dedy berharap masyarakat mau menggali kembali akar budaya mereka. Hutan Pasir Sunyi juga merupakan bentuk kritik Dedy terhadap kondisi alam Kalimantan yang kian hari kian memburuk.

“Itu untuk mengingatkan masyarakat bahwa hutan sangat penting dijaga kelestariannya,“ imbuh Iga.
DLDC memang kental dengan nuansa tari tradisionalnya. Sejak didirikan 24 tahun lalu, alam dan tradisi merupakan sumber inspirasi dari komunitas tari ini. Sang pendiri, Dedi Lutan, bahkan disebut sebagai salah satu koreografer tari tradisi yang paling konsisten di Indonesia.

Dijelaskan Iga, setiap karya baru juga didasarkan pada riset panjang di lapangan. Meski berbasis pada sumber-sumber tari tradisional, tidak gerakan tari yang dibawakan DLDC kuno. Gerakan-gerakan tari modern dan kontemporer juga kerap disertakan dalam setiap pementasan.

“Jangan anggap tradisi itu kuno. Meski kami mengedepankan tradisi, tapi gerakan kontemporer pasti ada. Setiap garapan tari kontemporer maupun modern pastinya berdasarkan dari tradisi terlebih dahulu,“ kata Iga.
Seluk beluk mengenai pertunjukan Hutan Pasir Sunyi juga telah dibahas dalam program Idenesia di Metro TV beberapa waktu lalu. Idenesia ialah program edukasi yang membahas keragaman budaya Indonesia, mulai dari musik, bahasa, hingga adat istiadat yang menjadi ciri khas Nusantara. (Deo/S-25) Media Indonesia, 08/05/2014, halaman 3