Jumat, 13 Juni 2014

Ayo Berwisata ke TPA Padang Panjang

Puluhan pelajar dari sebuah SMA di Martapura, Kalimantan Selatan, asyik bercengkerama di gazebo sambil menikmati keindahan taman di Padang Panjang, Kabupaten Banjar. Padahal dahulunya daerah tersebut merupakan daerah pembuangan sampah. Kini wilayah itu tampak indah, bersih, dan rapi. Bahkan kawasan yang tadinya kotor, bau, dan jorok itu kini menjadi daerah wisata.
Kunjungan para pelajar dari Martapura itu erat kaitannya dengan pelajaran pendidikan lingkungan hidup yang beberapa tahun terakhir diterapkan pemerintah daerah.

Para pelajar dapat menimba ilmu mengenai sampah dan penanganannya. Sampah bisa diolah menjadi gas metana dan bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan sampah yang ada di TPA tersebut bisa dijadikan energi listrik.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Padang Panjang tersebut dilengkapi puluhan jenis pepohonan, tanaman hias seperti anggrek, tanaman obat, hingga aneka satwa yang bisa menambah wawasan para pelajar.

Dengan didampingi para petugas dan pengelola TPA, para pelajar itu menyaksikan bagaimana cara pengolahan sampah dari hulu ke hilir. Keberadaan TPA yang disulap menjadi tempat wisata tersebut tak lepas dari peran ibu-ibu tim penggerak PKK Kabupaten Banjar. “Kita terus mendorong, mengubah TPA tidak hanya sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi juga kawasan wisata pendidikan,“ kata Raidhatul Jannah, ketua tim penggerak PKK Kabupaten Banjar.

Dengan sentuhan tangan ibu-ibu PKK, kawasan TPA tersebut kini berubah menjadi kawasan hijau, indah, dan asri. Wilayah itu layak disebut sebagai taman dan objek wisata.

Para pengunjung juga bisa menikmati hasil bumi seperti jagung, singkong, sayuran, dan buah-buahan yang tumbuh subur di TPA Padang Panjang tersebut. Singkong atau jagung bisa direbus di lokasi TPA dengan menggunakan kompor yang memakai gas metana. Rasanya pun tak kalah enak dengan jagung rebus yang dijual di pasar.

Kepala Dinas Kebersihan, Permukiman, dan Prasarana Wilayah Kabupaten Banjar Boyke W Triestiyanto menjelaskan TPA Padang Panjang merupakan TPA terbaik yang ada di Kalimantan Selatan.

“TPA ini juga diplot menjadi TPA regional bekerja sama dengan Pemkot Banjarmasin,“ kata Boyke.
TPA Padang Panjang memiliki luas areal 16,5 hektare dan baru dimanfaatkan sekitar 5 hektare. Diakui Boyke, pembangunan dan pengelolaan TPA Padang Panjang dengan standar pengelolaan dan penanganan sampah seperti ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup membutuhkan biaya mahal.

TPA tersebut mampu menghasilkan gas metana yang dialirkan melalui pipa berjarak 1,5 kilometer ke perkampungan sekitar. Wilayah perkampungan yang mendapat aliran gas metana dijuluki Kampung Methan.

Saat ini ada 55 keluarga yang menikmati gas metana secara gratis dari Pemkab Banjar. Penyaluran gas metana itu ditargetkan mampu menjangkau 100 keluarga pada akhir tahun.
Penyaluran gas metana secara gratis telah meringankan beban bagi masyarakat setempat. Puluhan keluarga pun mampu berhemat dalam pengeluaran biaya BBM dan gas untuk memasak.

Pihak pengelola TPA menyalurkan gas metana selama 12 jam sehari, yaitu pada siang hingga malam hari. Selain itu, TPA Padang Panjang juga mampu menghasilkan energi listrik dari sampah sebesar 1 kilowatt, yang digunakan untuk keperluan penerangan. “Jika dikelola dengan baik, TPA ini akan mampu menjadi TPA mandiri.

Saat ini setiap bulannya TPA Padang Panjang mampu mendatangkan pemasukan sebesar Rp21 juta yang berasal dari produksi kompos dan bank sampah,“ tutur Boyke. Ditambah lagi rencana kemitraan dengan industri untuk pengolahan sampah.

Di masa mendatang, TPA Padang Panjang akan berubah status menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pengelolaan Sampah dan Limbah.

Selain TPA Padang Panjang, TPA di beberapa kabupaten lain juga terus berbenah. Sejumlah TPA di daerah lain seperti Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Kota Banjarmasin telah menunjukkan banyak kemajuan. Wajah TPA tidak lagi angker, tetapi berubah menjadi asri. Sebagai contoh, TPA Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang berada di tepi jalan kabupaten kini jadi tempat menongkrong anak muda di sore hari. Demikian pula penanganan sampah telah menerapkan sistem yang baik sehingga pemanfaatan gas metana yang ada di balik timbunan sampah bisa dimaksimalkan.
(DY/N-3) Media Indonesia, 4/6/2014; 23